Sinopsis Novel Kasihku di Sirandu

Waktu masih eksis sebagai pelajar (sma) aku mendapat tugas untuk membuat sinopsi dari sebuah novel,dan akupun memilih kasihku di sirandu karya Drs.K.Soemarno yang menurutku bisa membawa kita kembali kejaman 90an yang sangat asri,berikut cerita singkatnya.
kasihku di sirandu

Kasihku di Sirandu
(Drs.K.Soemarno)
Pagi itu tidak seperti hari biasanya Legiman sudah rapi dan telah menyelesaikan semua pekerjaannya.Barang dan pakaiannya pun sudah dikemas rapi di tas koper,setelah berjalan-jalan sebentar dengan rasa sedih Legimanpun berpamitan dengan Pak Tarno dan Bu Tarno yang telah ia anggap sebagai orang tuanya serta dengan ke-2 anak Pak Tarno yang dia anggap sebagai adiknya sendiri.Karena kedekatan Legiman dengan ke-2 anak Pak Tarno dia merasa berat sekali meninggalkan rumah yang telah didiaminya selama 2 tahun terakhir ini.Kepergian legiman pun diiringi dengan permintaan anak Pak Tarno yang meminta mereka dibawakan oleh-oleh,namun sebenarnya mereka tak tahu bahwa entah kapan dan berapa lama mereka akan bisa bertemu lagi kakak Legiman yang setiap hari menemani mereka bermain.
Dengan hanya mengangguk Legimanpun pergi dan naik bus sampai terminal induk.Di jalan Legiman seperti terhipnotis dengan keadaan jalan yang sangat indah dan asri,dia hanya berbicara dalam hati selamat tinggal kota semarang,kota yang pada beberapa tahun ini mendapat adipura secara berturut-turut.Diiringi rasa sedih dan senang diapun duduk sambil memandangi pinggir jalan yang kebanyakan di hiasi bunga-bunga semacam mawar,bugenfil dan beberapa macam lainnya.Setelah sampai perempatan kecamatan ia pun turun bus dan mampir ke warung yang dekat dengan jalan masuk desa kelahirannya,dimana ia sangat kangen sekali dengan jajanan khas desanya yang tak lain adalah dawet ayu,memang ada banyak penjual dawet yang ada di Jawa Tengah ini,tapi rasanya tidak sama dengan dawet khas desa sirandu.Setelah selesai minum ia pun meneruskan jalannya,dimana ia dijalan teringat masa lalu saat dia menggembala dan bermain dengan teman-temannya,kelihatannya belum banyak berubah dari desanya 2 tahun lalu,selama di perjalanan dia bertemu dengan banyak tetangganya yang sangat ramah,dan selalu menyapa dengan menanyakan apa kabar dan sebagainya.Jalanan menuju rumah Legiman memang belum di aspal dan belum bisa dilalui kendaraan namun inilah yang membuat Legiman kangen dengan desanya.Legiman sudah 2 tahun pergi meninggalkan kampung halamannya untuk merantau ke kota dengan tujuan mendapat pekerjaan yang lebih baik,dia kembali karena mendapat surat kalau bapaknya sakit dan kangen padanya.Legiman di Semarang tidak langsung mendapat pekerjaan mudah sebelum pada akhirnya bekerja dengan tetangga sedesanya yang mempunyai usaha barang rongsokan di Semarang.Dua kilometer perjalanan membuat badannya sangat pegal dan lelah karena jalan yang terjal dan barang bawaannya yang banyak.Selama Perjalanan dia sering memindahkan barangnya dari kiri ke kanan dan sebaliknya.Akhirnya Legiman tiba dirumah,dia di sambut oleh ibu,nenek, dan adiknya Poniah serta kakaknya Liwon.
Tiga hari berlalu semenjak Legiman tiba di desanya,dengan bermaksud bertemu temannya dan mengenang masa lalu,legiman pun duduk-duduk di dekat belik atau tempat pemandian umum yang kondisinya sudah tidak seperti dahulu kala,dimana dulu air masih banyak,bersih,dan ikan-ikan masih ada,berbeda dengan sekarang di sawah sudah tidak ada belut dan ikan seperti dulu karena banyaknya petani menggunakan pestisida serta air menjadi kecil dan keruh karena pohon-pohon sudah mulai hilang.Di tempat itu pula Legiman bertemu kembali sahabat lamanya Asih yang merupakan pujaan hatinya.Asih adalah anak Pak Brengos,warga paling kaya di desa Sirandu.
Tiga hari bukanlah waktu yang lama,namun bagi legiman waktu 3 hari seperti 3 bulan yang sangat indah dan mengenang.Di desa ini memang hampir semua orang bergantung dengan pabrik orang terkaya di desa sirandu yakni pabrik Pak Brengos,dimana para petani Desa Sirandu dan Sekitarnya menjual ketela pohonnya pada pak Brengos untuk dijadikan tepung,selain itu bagi pemilik lahan mereka menyewakan lahannya untuk digali dan diambil batunya oleh pak Brengos.Hal inilah yang menjadi kekawatiran Legiman dimana lahan bekas galian akan tidak subur lagi dan akan sulit untuk digarap.Untuk masalah pabrik yang menjadi keprihatinan Legiman adalah Limbah pabrik yang dibuang di sungai yang membuat sungai menjadi keruh dan membuat orang yang mandi di sungai atau belik menjadi gatal-gatal.Melihat keadaan seperti ini Legiman yang masih kuliah di jurusan pertanian di salah satu universitas di Semarang mempunyai suatu konsep untuk memperbaiki desa yang sangat ia cintai dan menjadi kebanggaannya.
Karena Asih adalah sahabatnya sejak lama di mana dia selama 4 tahun berangkat sekolah bersama sejak Legiman kelas 3 SMP dan Asih kelas1 SMP,Legiman bercerita tentang Air sungai yang mengeruh dan tanah yang tidak subur lagi,dimana hal ini diceritakan Asih kepada bapaknya,bukannya mendapat hal positif Legiman malah dilabrak Pak Brengos karena menurutnya Legiman akan menjadi batu sandungan usahanya.Namun setelah didamaikan Mbah Lurah akhirnya kedua kubu saling memaafkan dan pak Brengos tahu bahwa dia salah karena kesalahpahamannya.
Dengan damainya Legiman dan Pak Brengos akhirnya apa yang diinginkan dan direncanakan oleh Legiman beberapa bulan terakhir terealisasikan.Legiman sendiri ditunjuk sebagai ketua Karang Taruna Desa Sirandu dan juga sebagai ketua Pelestarian Tumbuhan Desa Sirandu.Sungai yang biasanya keruh sudah mulai bersih walau pada saat hujan agak sedikit mengeruh,sungai yang biasanya debitnya sedikit sudah mulai besar karena penghijauan yang dilakukan,serta sungai yang membuat gatal-gatal jika digunakan sudah dapat diatasi dengan dibuatnya tempat penampungan.Sawah yang dikelola Pak Brengos juga memperoleh titik temu agar tetap subur.Seluruh biaya Karang Taruna ditanggung oleh pak Brengos.Desa pun jadi lebih asri dan indah seperti lagu SD yang sering ia nyanyikan dulu.‚ÄĚDesaku yang kucinta,Pujaan hatiku,Tempat ayah dan bunda,Dan handai taulanku,Takmudah kulupakan,Tak mudah bercerai,Desaku yang kurindukan,Desaku yang permai.”

Related posts

Leave a Comment