Pilih Sarjana atau Diploma

Setelah membahas perbedaan Universitas,Institus,Politeknik,sekolah tinggi dan akademi yang saya posting beberapa waktu yang lalu,sekarang kita akan membahas apa sih bedanya Sarjana dengan Diploma?
source http://stat.ks.kidsklik.com/statics/files/2012/05/13371739191716450785.jpg

berikut beberapa yang dapat saya kutip dari okezone :

Keputusan memilih jenjang kuliah harus didasari dengan banyak pertimbangan, terutama harus disesuaikan dengan keinginan dan potensi diri yang dimiliki. Apalagi, realitanya saat ini justru banyak lulusan universitas yang menganggur setelah mereka lulus. Ironisnya, kebanyakan mereka yang menganggur adalah para lulusan sarjana yang notabene dulu merupakan strata pendidikan bergengsi dengan biaya pendidikan yang relatif mahal.
Sementara, permasalahan lulusan diploma juga sama saja. Lapangan pekerjaan untuk diploma tergolong sedikit dan banyak yang akhirnya “dicaplok” oleh lulusan sarjana. Sebelum menentukan pilihan, ada baiknya mengenal apa itu diploma dan sarjana. Program diploma diciptakan untuk menyerap lapangan kerja yang luas dan semakin membutuhkan banyak tenaga ahli.

Orang-orang yang lulus dari jenjang pendidikan ini diharapkan mampu menerapkan ilmu dan keterampilan mereka dalam praktik kerja yang akan dijalani. Selain diharapkan mampu menguasai bidang kerja, mereka juga diharapkan dapat bersikap mandiri dalam pelaksanaan dan dalam mempertanggungjawabkan pekerjaannya nanti.
Oleh karena itu, berkaitan dengan sikap “siap kerja” ini, ilmu-ilmu yang dipelajari di program pendidikan diploma lebih cenderung ke arah praktik. Diploma sendiri memiliki beberapa level yakni D-1 (masa studi satu tahun), D-2 (dua tahun), D-3 (tiga tahun), dan D-4 (empat tahun= setara S1). Sementara itu, lulusan sarjana lebih diutamakan memiliki penguasaan ilmu dasar ilmiah dan keterampilan dalam bidang keahlian tertentu.
Dengan demikian, lulusan sarjana diharapkan mampu menemukan, memahami, dan merumuskan cara penyelesaian masalah yang terkait dengan bidang ilmu yang didalami. Selain itu, lulusan sarjana juga diharapkan dapat menerapkan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang telah dipelajarinya itu sesuai dengan bidang ilmu masing-masing serta menggunakannya dalam kegiatan produktif dan pelayanan kepada masyarakat.
Mahasiswa sarjana lebih fokus pada pendalaman materi dari bidang jurusan yang diambilnya. Jalur akademis sarjana terdiri atas S-0 (nongelar), S-1 (sarjana), S-2 (master), dan S-3 (doktor).

“Singkatnya, program sarjana sifatnya lebih akademik. Sementara, program diploma sifatnya lebih ke praktis, tertuju pada dunia kerja,” ujar guru besar Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Prof HAR Tilaar saat dihubungi, akhir pekan ini.
Menurut Tilaar, kedua program pendidikan ini sebenarnya setara. Lulusan D-3 misalnya, jika ingin melanjutkan ke jenjang S-1, mungkin-mungkin saja. “Tentu dengan syarat-syarat tertentu, misalnya penambahan mata kuliah yang belum diperoleh saat kuliah di D-3,” terangnya.

Terkait peluang kerja, kata dia, juga sama saja. Meskipun lebih banyak yang menginginkan lulusan bertitel sarjana, sekarang semakin banyak perusahaan yang membutuhkan karyawan yang telah memiliki keterampilan menjadi tenaga ahli yang mumpuni. 


Bisa dibilang, lulusan diploma yang lebih siap kerja dibanding sarjana sudah mulai diperhitungkan oleh dunia industri. “Hal yang perlu diperhatikan juga kalau memilih diploma, jangan pilih jurusan yang populer dan banyak peminatnya, seperti akuntansi atau administrasi. Pilih yang masih kurang diminati, seperti program studi kreatif, servis, atau automotif yang sebenarnya berpotensi mengembangkan entrepreneur atau kewirausahaan,” sebut Tilaar.
Intinya, memilih jenjang pendidikan tidak boleh asal-asalan. Faktor asal memilih biasanya dipengaruhi oleh lingkungan sosial dan pengaruh teman. Tentu hal ini akan berakibat pada kegagalan pembelajaran. Misalnya, hanya karena melihat prospek ke depan atau hanya karena ikut-ikutan teman, seseorang akan memilih jenjang tertentu, tanpa melihat kenyamanan atau potensi diri. Pemilihan jenjang pendidikan harus ditentukan melalui pertimbangan cita-cita atau keinginan Anda setelah lulus. 

Nah dari pengalaman saya di programa Diploma (Saya D4) perbedaan yang paling kentara adalah soal praktik dimana Diploma benar apa yang dikatakan diatas memang siap kerja karena hampir 60 % pelajaran adalah praktis sisanya pelajaran seperti di perguruan tinggi lain.Kata teman saya yang di Sarjana “Kalau sarjana prakteknya 2 jam tapi laporannya bisa 1 bulan,sebaliknya Diploma Prakteknya 1 bulan namun laporannya 2 jam”  hal ini menggambarkan di perguruan tinggi teori (60%) lebih besar prosentasenya dari pada praktik (40%).

Sebagai contoh lagi teman saya A di program Sarjana T.Mesin dan B program diploma T.mesin juga,si B yang Diploma pada semester awal sudah praktek fluida,utak-atik mesin,menggambar manual dan dibantu komputer (autocad) namun sebaliknya A masih berkutat di kelas.Oh ya satu lagi,apakah ini menyeluruh atau tidak namun dari yang saya tahu progam Sarjana jika kuliah memakai serakan bebas,berbeda dengan program Diploma yang memakai/memiliki seragam khusus.

Bagaimana? Semoga informasi ini bisa membantu teman-teman yang akan melanjutkan ke strata yang lebih tinggi. 🙂

Related posts

Leave a Comment