Pembatasan KKM di SMA perlukah?

Di tahun 2013 ini telah di ketahui bahwa penerimaan mahasiswa baru akan mengalami perubahan nama dan kuota,dimana kuota terbesar adalah pada jalur SNMPTN atau dulu disebut jalur undangan sebesar 50%.Jalur SNMPTN ini dulunya hanya bisa diikuti oleh segelintir siswa yang berprestasi.Tahun inipun penerimaan jalur SNMPTN berubah dimana semua nilai dalam raport di input dan universitaslah yang akan menyaringnya,berbeda dengan tahun tahun sebelumnya yang di input adalah matapelajaran UNAS dan yang menyaring adalah pemerintah pusat.

Penerimaan melalui jalur ini memang menilik dari banyak aspek diantaranya 

 1.Nilai dari siswa itu sendiri (raport semester 1-5 dan nilai UNAS) 
 2.Prestasi Alumni di universitas itu 
 3.Akreditas sekolah

 

Nah disinilah seharusnya KKM SMA di seluruh indonesia seharusnya di setarakan,semisal kkmnya “50” dimana kita akan kembali kejaman dahulu,ketika orang tua menanyakan “apakah ada nilai merah?” yang dimaksud adalah nilai dibawah KKM.Sekarang ini KKM setiap sekolah berbeda-beda ada yang rendah ada pula yang tinggi.Saya sendiri sangat tidak setuju semisal KKM di sekolah itu “80” dimana siswa yang mampu dan kurang mampu tidak akan kelihatan,nilai di rapotpun terkesan aneh,karena satu anak dengan anak yang lain hampir sama.Dengan penyetaraan KKM ini diharapkan cara masuk jalur SNMPTN lebih fair dan akan memudahkan pusat.Disini juga akan kelihatan,mana siswa yang memang bisa dan mana yang belum.

Dengan melihat nilai tersebut,

PTN tinggal menambah penilaian yang lain.

Nah inilah sedikit opini dari saya,kalau anda?

– www.opowi.net –

Related posts

Leave a Comment