Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Bisnis Properti

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Bisnis Properti

Pandemi Covid-19 menjadi ancaman serius di berbagai sektor industri termasuk industri properti. Meski demikian, secara perlahan industri properti mulai bangkit. Data Pusat Studi Properti Indonesia menyebutkan bahwa pertumbuhan properti pada kuartal II 2020 berada di angka 1,5 persen akibat adanya virus corona. Kemudian pada kuartal III 2020, pertumbuhan sektor properti diproyeksikan mencapai 2 persen. Memasuki kuartal IV2020, pertumbuhan disektor properti diprediksi mencapai 3,5 persen. Hal ini karena para pelaku bisnis sudah mulai dapat beradaptasi dengan keadaan pasar di masa pandemi Covid-19.

source : www.bisnis.com

Dalam masa pandemi seperti saat ini, para pelaku bisnisharus dapat lebih fokus dalam merencanakan produknya dengan target pasar yang benar-benar jelas karena hampir semua lapisan masyarakat terkena dampak dari pandemi ini.

Tantangan yang harus dihadapi selanjutnya adalah pemasaran. Adanya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di beberapa wilayah beberapa waktu lalu tentu menghambat penjualan karena masyarakat lebih banyak melakukan aktivitas di rumah.

Bagi para pelaku bisnis properti, berikut beberapa risiko bisnis yang perlu diketahui.

Biaya perawatan dan disinfektan berkala

Perawatan secara berkala menjadi suatu kewajiban bagi para pelaku bisnis properti. Perawatan tersebut meliputi biaya perbaikan bangunan dan kebersihan agar properti selalu dalam kondisi bagus. Hal ini guna meningkatkan nilai dari properti yang akan dijual. Selain itu, pelaku bisnis juga perlu melakukan penyemprotan disinfektan terhadap properti yang dimiliki. Imbas dari pandemi banyak konsumen yang memilh hunian dengan aspek kesehatan yang tinggi. Dengan melakukan penyemprotan disinfektan maka diharapkan dapat memutus rantai penyebaran virus corona.

Bencana alamdan kejadian tak terduga lainnya

Risiko investasi properti yang tidak bisa dihindari adalah bencana alam seperti banjir, gempa bumi, tanah longsor, dan sebagainya yang dapat menghancurkan bangunan. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk meminimalkan kerugian akibat risiko yang muncul tersebut adalah dengan memiliki asuransi properti. Sehingga jika terjadi kerusakan yang disebabkan bencana alam maka pihak asuransi akan menanggung biaya kerugian sesuai manfaat polis asuransi yang dibeli

Penyusutan bangunan

Bisnis properti berupa tanah dan bangunan setiap tahun memang cenderung meningkat. Meski demikian, secara teoritis bangunan di atas tanah juga memiliki umur. Bangunan pada umumnya dapat berumur 20, 30, hingga 40 tahun. Hal ini tergantung dari konstruksi, kualitas, fungsi dan perawatan terhadap properti tersebut.

Beberapa risiko umum lainnya adalah sebagai berikut:

  • Kenaikan harga tanah dan harga bahan konstruksi.
  • Pengaruh terorisme dan situasi politik.
  • Serangan cyber terhadap sistem internal perusahaan properti.

Berbagai risiko diatas, membuat para pelaku industri propertiharus cermat dalam merancang kredit manajemen risiko,Penggunaan jasa broker asuransi, seperti Marsh Indonesia, dapat mendukung perusahaan industrireal estate dalam mewujudkan manajemen risiko secara tepat. Broker asuransi berperan dalam menghadirkan proteksi dari mitra asuransi terbaik yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan sehingga kerugian finansial dapat diminimalkan jika terjadi risiko.

Source:

https://ekonomi.bisnis.com/read/20200504/47/1236198/penuh-tantangan-ini-prediksi-pertumbuhan-sektor-properti
Next Post

No more post

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *